Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2015

Eat, Traveling, & Pinternet "Cara Lain Menikmat Sunrise Dieng"

Panorama Puncak Gunung Prau Dieng

Dataran tinggi dieng punya sejuta pesona karena berada diketinggian sekitar 2.300 mdpl dan apabila pagi hari kabut menyelimuti pemukiman jadi tidak salah apabila diberi julukan negeri diatas awan. berbekal keindahan foto-foto dieng yang banyak tersebar di media sosial akhirnya tekad untuk ke dieng seorang diri pun sudah bulat. selama 1 minggu sebelum hari keberangkatan saya rajin browsing serta aktif bertanya di grup-grup facebook para penikmat travelling dengan tujuan mencari akses transportasi dari tangerang tempat saya tinggal sampai ke dieng serta potensi-potensi wisata apa saja yang harus saya kunjungi. akibat dari seringnya bertanya saya mendapat seorang teman untuk menikmati keindahan dataran tinggi dieng dan dia adalah mas Hamid seorang warga asli dari dieng. akhirnya bertukarlah kontak seperti no. hp sekaligus whatsapp serta pin BBM. akses transportasi menuju dieng sudah didapat dan teman selama travelling pun sudah didapat berkat dari sebuah teknologi internet akhirnya waktu keberangkatan pun tiba dan saya berangkat seorang diri dari tangerang menuju dieng dengan tetap intens berkomunikasi lewat whatsapp atau pun BBM. beruntung kartu yang saya gunakan adalah Indosat jadi sinyal tidak pernah putus serta kuota yg lumayan besar jadinya saya tidak mati gaya selama perjalanan tangerang wonosobo selama 10 jam dengan menggunakan bis. saya masih tetap bisa browsing, streaming youtube atau pun chatting di whatsapp serta BBM.

setelah menempuh perjalanan semalaman saya pun sampai di kota wonosobo dan melanjutkan perjalanan menggunakan micro bis menuju dieng. selama perjalanan didalam micro bis saya terus berkomunikasi via BBM dengan seorang teman baru dari Facebook yang akan menemani selama di dieng. 1 jam berlalu dan akhirnya sampailah di pertigaan dieng dan sudah ditunggu oleh mas Hamid seorang teman yg saya kenal lewat facebook. berkenalan singkat, ngobrol-ngobrol sebentar sambil sarapan dan diajak kerumahnya untuk beristirahat sambil merencanakan itinerary selama di dieng.

Konon di dieng terdapat perkampungan tertinggi di pulau jawa yaitu desa sembungan yg mempunyai panorama sunrise terbaik yaitu puncak sikunir dengan background gunung sindoro dan sumbing. saya pun sempat melihat foto-foto keindahan sikunir memang dari internet tetapi saya diberi pilihan lain untuk menikmati sunrise di dieng yang tidak kalah bagusnya dengan sikunir yaitu puncak gunung prau tetapi harus trekking dengan medan menanjak selama kurang lebih 3 jam. sangat cocok bagi yang mempunyai jiwa adventure karena kita pun akan menginap didalam tenda. karena rasa penasaran akhirnya saya pun menyanggupi untuk mendaki gunung prau dan bersegeralah kami pun menyiapkan alat apa saja yang harus dibawa dan sesuai dengan prosedure pendakian gunung dari tenda, alat masak, jaket, sleeping bag, senter serta logistik untuk bekal kami selama 2 hari 1 malam kami packing dalam 2 tas carrier.

Setelah makan siang kami pun berangkat menuju gunung prau melalui pintu pendakian  patak banteng yang mempunyai medan terus menanjak tetapi relatif lebih singkat. setelah mengisi daftar pendakian di base camp patak banteng dan membayar biaya retribusi yang sudah tercover asuransi kami pun mulai berjalan mendaki dengan pemandangan awal adalah perkebunan cabai dan kentang yang ditanami oleh warga dieng. selepas perkebunan warga jalur pendakian semakin menanjak tetapi lebih adem karena dipayungi oleh lebatnya hutan pinus dan pemandangan pemukiman dieng serta perkebunan warga apabila kita beristirahat dan menengok kebelakang. selepas hutan pinus dari sinilah jalur menjadi semakin extreme dengan tanjakan yang semakin terjal serta harus extra hati-hati karena kita akan berjalan melipir punggungan gunung prau dengan jurang menganga disebelah kanan jalan.

Jalur Pendakian Hutan Pinus


Pemandangan dari Jalur Pendakian

 setelah berjalan saya pun melihat sabana sejauh mata memandang berarti kita sudah sampai dipuncak gunung prau dan bersegera mencari lokasi pohon-pohon tinggi sebagai tempat untuk mendirikan tenda menjaga dari angin besar karena puncak gunung prau itu jarang sekali pohon tinggi. karena kelelahan setelah menempuh perjalanan dari tangerang serta letihnya mendaki gunung prau setelah mendirikan tenda kami pun bersegera menyiapkan makan malam dan langsung beristirahat tidur setelah makan dengan tidak lupa memasang alarm pukul 05.00 agar tidak terlambat untuk menikmai sunrise dari puncak gunung prau.

Puncak Gunung Prau
 
alarm tepat berdering pukul 05.00 dan bersegeralah kami keluar dari tenda dengan tidak lupa membawa kamera untuk mengabadikan keindahan matahari terbit negeri diatas awan dieng karena sebuah foto banyak cerita dan sangat egois lah saya apabila hanya menikmati keindahan ini lewat mata kepala saya sendiri tanpa membagi-bagikannya lewat sebuah foto, dan memang panorama keindahan sunrise di puncak gunung prau ini tidak kalah bagusnya oleh sunrise dari sikunir walaupun sebenarnya saya sendiri belum pernah ke sikunir. matahari pagi semakin tinggi dan puncak gunung prau semakin panas jadi kami bersegera untuk packing dan turun dengan melalui jalanan yang sama seperti sewaktu kami naik. perjalanan turun relatif lebih singkat karena jarang beristirahat. hanya butuh waktu 1,5 jam saja kami sudah sampai kembali di pintu pendakian patak banteng.

sedikit foto panorama keindahan matahari terbit dari puncak gunung prau
Gradasi warna langit menjelang matahari terbit

Negeri Diatas Awan
Damai
Sunrise dari Gunung Prau


setelah bersih-bersih di base camp saya pun diantar oleh mas Hamid untuk membeli manisan carica buah khas dari dieng yang bentuknya seperti pepaya apabila masih dipohon dan sangat segar apabila sudah dibuat manisan serta membeli purwaceng minuman khas dieng yg katanya bisa meningkatkan daya tahan tubuh. beres membeli oleh-oleh saya pun diantar kembali oleh mas Hamid menuju kota Wonosobo dan diberi rekomendasi untuk mencicipi mie ongklok. mie khas kota wonosobo dengan bumbu rempah yang cukup enak dilidah. apabila berkunjung ke kota wonosobo memang sepertinya wajib untuk mencicipi kuliner ini karena hanya ada dikota wonosobo saja. saya belum pernah melihat ada penjual mie ongklok dikota lain. dan akhirnya setelah puas menikmati kuliner saya pun diantar ke terminal karena bis menuju kota tangerang hanya ada 1 kali yaitu pada jam 17.00 dan disinilah saya akhirnya harus berpisah dengan teman baru yang didapat dari facebook.

Mie Ongklok khas kota Wonosobo

Buah Carica yang masih dipohon

Terima kasih dieng atas kabut lembabmu, keindahan matahari terbitmu, kuliner lezatmu serta keramahtamahan wargamu. semoga tetap terjaga semua pesonamu

Rabu, 28 Agustus 2013

Surga Indonesia di Taman Nasional Gunung Rinjani



Pagi ini saya bangun tepat pada pukul 08.00 WIB setelah dua hari sebelum keberangkatan harus menunaikan kewajiban "nguli" dari pagi sampai malam.
Pesan singkat di handphone dari Alex dan Furqon terus masuk guna menanyakan kapan akan berangkat menuju bandara dan di mana meeting point. Tanpa menunggu segeralah saya mandi dan mengangkat depek andalan yang udah di pack malamnya serta meluncur ke meeting point yang sudah ditentukan. Setelah bertemu Alex & Furqon saya langsung mengisi tambahan logistik kemudian meluncur menuju Bandara Soekarno Hatta, Terminal 3 di mana kali ini saya akan Menaiki airlines Indonesia Air Asia. Sekarang kami tinggal menunggu Wan Abud serta Bram yang sedang on the way menuju bandara.
Sesampainya di bandara saya langsung meng-sms Bram yang ternyata belum sampai. lain cerita dengan Wan Abud yang sudah menunggu di gate. Ketika sampai Bram langsung melakukan cek in. Karena tidak membeli bagasi sementara itu petugas juga tidak menyarankan agar "kulkas-kulkas" tidak masuk bagasi maka dengan santainya "kulkas" tersebut dibawa ke gate dan ditaru di cabin pesawat, sampai-samapi jadi perhatian satu gate dan satu pesawat. Setelah selesai saya langsung mengabari Wan Abud, kalau kami sudah di gate dan sedang menunggu waktu keberangkatan dengan delay lebih kurang 1 jam.
Walhasil, Wan abud take off duluan sedangkan saya, Bram, Alex, dan Furqon masih harus menunggu sampai waktu keberangkatan tiba. Akhirnya panggilan untuk kepesawat pun tiba, segeralah kami menuju pesawat dengan menggunakan bus karena letak pesawatnya jauh.
Boarding, Take off to Bali 
Sampai di Bali sekitar pukul 18.30 WITA, kami pun langsung keluar airport mencari Riki dan Wan Abud yang sudah sampai terlebih dahulu di Bali. Setelah bertemu dengan Riki dan Wan Abud kami sepakat untuk mencarter mobil sampai Ubung dengan biaya 20k. Sesampainya di Ubung kami tinggal menunggu kedatangan teman lainnya yang sudah sampai terleboh dahulu, yaitu Angan, Andre, dan Angga. Setelah mereka datang dan melakukan nego harga menyewa mobil dengan harga sepakat 40k kami langsung berangkat menuju Padangbai.
Ketika sampai di Padangbai kami langsung menjadi sasaran para calo tiket, anehnya calo di pelabuhan ini tidak mengambil untung sama sekali. Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat harga di loket resmi dan calo sama. Di kapal tidak ada kegiatan yang berarti hingga sampai di Pelabuhan Lembar. Kami sampai di pelabuhan pukul 04.00 WITA, sarapan, ibadah, dan menunggu konco-konco dari Mataram yang akan menjemput kami. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya kami dijemput menggunakan mobil yang udah di koordinasikan oleh Bang Pian. Atur posisi langsung berangkat menuju sekretariat gema alam yang disana sudah menunggu beberapa teman yang akan mengantar kami mengunjungi Miss Anjani. Sampai sekretariat istirahat sebentar langsung atur posisi lagi untuk berangkat menuju Sembalun dengan tambahan tiga orang teman, yaitu Bang Marsha, Bang Locker, dan Bang Ion.
Perjalanan Mataram-Sembalun lumayan berat, walaupun naik mobil karena medan jalan yang sedikit rusak serta tanjakan-tanjakan dahsyat yang mengharuskan turun beberapa kali agar mobilnya tidak berbalik mundur.
Sampai di Sembalun langsung berganti baju dan menitipkan barang-barang yang tidak mungkin terpakai saat di gunung nanti. Sekitar pukul 16.45 waktu setempat perjalanan pun dimulai dengan melewati ladang penduduk setempat, sedikit memasuki tempat, dan langsung disuguhi oleh hamparan Sabana Rinjani yang eksotis dan terlihat landai.
Sekitar pukul 17.30, sampailah kami di jembatan yang menghubungkan jalur Sembalun yang sebenarnya dan jalur Potong yang lumayan irit waktu. Sampai di pos 1, kami memutuskan untuk istirahat dan tidak ketinggalan unrtuk berfoto-foto dengan para pendhajit dilanjut ke pos 2 dengan target awal hari ini untuk mengistirahatkan mata dan badan. Tidak terasa sampai di pos 2 hari sudah gelap.

03 November–04 November
Pagi yang cerah di pos 2 dengan Puncak Miss Anjani melambai-melambai membuat kami bersemangat untuk segera melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun dengan medan masih berupa sabana sebelum akhirnya pendakian sesungguhnya di tanjakan penderitaan.
Setelah berjalan lebih kurang 1 jam sampailah kami di pos 3 dengan cuaca berkabut. Karena perjalanan masih jauh setelah istirahat dan bersenda gurau sedikit dengan para monyet maka kami pun bergerak meninggalkan pos 3. Di sinilah pendakian sesungguhnya baru dimulai, tanjakan-tanjakan terjal menunggu kami di depan yang membuat saya lelah sebagai tim pariwisata. Perjalanan semakin berat dikarenakan kabut tebal menemani kami sampai menurunkan titik hujan yang awalnya kecil menjadi semakin besar dan mengharuskan kami membuka flysheet menunggu hujan reda sambil istirahat lagi.
Hujan pun mereda dan kami melanjutkan perjalanan yang ternyata cuaca semakin memburuk terbukti dengan hujan semakin besar dan membuat kondisi badan menjadi drop. Tim "ngacir" sudah jauh melesat di depan sedangkan saya sebagai tim pariwisata masih tertinggal di belakang ditemani oleh Bang Locker yang setia. Akhirnya plang Plawangan Sembalun terlihat. Yang membuat saya sedikit bersemangat untuk menuju puncak bukit yang ternyata setelah sampai puncak Bukit Plawangan ada bonusnya sekitar 500 M untuk menuju tempat camp. Segeralah saya berjalan melipir bukit dan akhirnya sampai juga di camp Plawangan dengan suguhan view sunset Segara Anak. Sampai tenda, ganti baju kering, makan langsung tidur dikarenakan badan sudah tidak bisa diajak kompromi lagi dengan asumsi dinihari nanti summit attact yang ternyata hujan masih terus menemani kami yang mengharuskan kami mengurungkan niat untuk summit attact dan melanjutkan tidur lagi.

05 Nov
Dini hari sekitar pukul 03.00 WITA kami bergegas bangun untuk summit attact Miss Anjani dengan cuaca yang mendukung dipenuhi bintang dan semilir angin Plawangan yang sebenarnya membuat saya malas untuk jalan tapi demi Miss Anjani rasa malas itu pun dikesampingkan dulu. Selesai menghangatkan badan dengan  kopi serta cemilan cepuluh cebelas  kami pun berdoa demi keselamatan dan kesuksesan buat semua.
03.30 WITA summit attact dimulai dengan medan tanjakan-tanjakan terjal untuk menuju punggungan Puncak Miss Anjani. Di sini tim mulai tercecer ada yang "ngacir", ada yang santai dan ada yang "ngesot" di belakang. Satu persatu tim sampai di puncak tertinggi tanah Lombok karena cuaca yang sangat tidak mendukung tim tidak sempat berkumpul bersama paling hanya sekedar foto-foto dan bertemu Puncak Miss Anjani sekadarnya saja dan langsung turun kembali ke Plawangan mencari sedikit matahari untuk menghangatkan badan. 

06 Nov
Pagi di 06 November cuaca tidak kunjung membaik yang ada cuma kabut serta rintik-rintik hujan karena alasan waktu serta logistik kami pun segera packing dan turun kembali via Sembalun serta harus merelakan Segara Anak. Perjalanan turun tim tercecer kembali karena medan turunan terjal yang lumayan membuat gagal dengkul serta hujan menemani sepanjang perjalanan turun sampai pos Sembalun. Akhirnya tim tiba di Sembalun dengan selamat semua langsung disambut nasi bungkus yang udah di pesan dari pos 1 tadi oleh tim ngacir.

Puas berjalan-jalan di Desa Bayan sambil membeli souvenir kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Mataram untuk cari makan. Sampai Mataram kami langsung mengisi perut dan mengeluarkan barang-barang dari kulkas. Sampai jumpa kawan di petualangan selanjutnya.

07 Nov

Kami pun tiba kembali di Padangbai pada pagi hari disambut dengan sunrise. Langsung turun kapal dan nego ongkos yang akhirnya disepakati 30k sampai alun-alun Renon, Denpasar. Selama perjalanan saya terus berkordinasi dengan tuan rumah Aka Karees untuk memohon izin singgah dan beristirahat. Sampai alun-alun ternyata sedang ada car free day yang mengharuskan kami jalan kaki di antara para peserta gerak jalan yang lumayan jadi pusat perhatian karena "kulkas-kulkas" yang kami bawa di punggung.
Akhirnya sampai juga di kost-an Karees, kami langsung membeli sarapan, mandi, kemudian bersih-bersih, istirahat sebentar, dan meluncur  sebentar di Bali. Karena macetnya Denpasar dan hujan turun kami hanya sebentar saja singgah di Kute langsung menuju Ngurahrai dikarenakan pesawat yang akan membawa saya pulang ke Jakarta akan take off pada pukul 18.05 WITA yang ternyata terjadi keterlambatan selama 1 jam.
Akhirnya tiba waktunya kami untuk ke gate karena waktu yang sudah mepet sedangkan Angan, Riki, Andre, dan Angga masih harus stay di Bali dikarenakan tiket pulang mereka esok hari. See u kawan-kawan ditunggu di tanjakan dan turunan selanjutnya.