Selasa, 12 Mei 2015
Gaharnya Merapi & Ramahnya Yogyakarta
Berawal dari banyaknya hari libur, maka saya mulai mencari teman untuk jalan-jalan ke kota Yogyakarta dan berkunjung ke Gunung Merapi. Saya pun mendapatkan teman dari Tangerang, yaitu Alex serta Bram, Angga, dan Deri yang berasal dari Bandung.
Sudah bangun siang, belum ada persiapan apapun, dan harus mengurusi laptop yang mulai rewel minta di servis. Daripada buang waktu, segeralah meng-install ulang laptop sambil menunggu Alex yang masih harus 'nguli' sampai sore.
Jam 4 sore, Alex sudah siap melaksanakan perjalanan lengkap dengan membawa alat 'perang' yang dibutuhkan. Kemudian, ia cepat-cepat menyuruh saya untuk melakukan persiapan. Kalau boleh jujur, sebenarnya saya belum mempersiapkan apapun.
Saya langsung buru-buru mandi dan mengangkut daypak bekas jalan-jalan beberapa waktu lalu yang belum sempat dicek isinya. Hal ini dikarenakan kami harus mengejar waktu keberangkatan bus atau kereta yang akan membawa kami menuju kota Yogyakarta. Benar saja, kami tertinggal bus dan kereta. Sehingga kami harus transit terlebih dahulu di Cilacap baru menyambung kereta ke Yogya dan perjalanan ini memakan waktu 17 jam.
Matahari sudah berada di atas kepala, saat kita tiba di Yogya. Saya pun bergegas sms Bram bereserta rombongannya yang ternyata udah sampai dari jam 6 pagi *sory Bram untuk kedua kalinya diriku menelantarkanmu. Setelah bertemu rombongan Bandung, buru-buru kami mengontek teman-teman di Yogya, yaitu Tirta, Mayor, dan Ndut sebagai tuan rumah. Singkatnya kami sampai di kosan Tirta sore hari. Beres-beres, beli logistik, dan carter mobil untuk menuju new Selo sebagai destinasi awal perjalanan kami yaitu puncak gunung Merapi.
Isi logistik, cek alat dan packing ulang langsung berangkat menuju new Selo yang memakan waktu sekitar 1-2 jam dengan medan jalanan tanjakan dan turunan serta belokan-belokan tajam ditemani kabut tebal. Sampai base camp new Selo hari udah hampir tengah malem. Maka dengan itu kami memutuskan untuk istirahat sejenak sambil ngopi dan tidur-tiduran menanti jam 12 malam biar pas sampai puncak pagi hari untuk menikmati sunrise di Pasar Bubrah.
Keputusan jalan jam 12 malam ternyata masih terlalu cepat yang mengharuskan kami istirahat dan tidur sejenak kembali di pos I. Adzan subuh pun terdengar sayup-sayup bukannya pada ibadah dulu ini maen pada ngacir aja melanjutkan perjalanan ditemani kabut tebal. Angin sepoi-sepoi dan udara dingin yang menusuk tulang.
Sampe Pasar Bubrah, kabut tebal, dan udara semakin dingin. Langsung sarapan aja deh buat angetin badan dan lanjut jalan menuju puncak Merapi ditemani kabut, angin, dan rintik-rintik hujan yang membuat kami sedikit pesimis untuk melihat kebesaran Tuhan dari puncak Merapi. Tapi, dengan kebesaran-Nya kami diberi cerah dan pemandangan yang luar biasa beberapa saat setelah berada di puncak Merapi.
Thanks god dan yang membuat kami sangat gembira saat itu kami menemukan sebongkah semangka yang lumayan membuat tubuh kami lemah karena tanjakan maut dari Pasar Bubrah menuju puncak Merapi menjadi kembali segar. Lagi-lagi kami berucap thanks god. Hari beranjak siang yg mengharuskan kami untuk buru-buru turun lagi agar tidak kemaleman di jalan dan dikenakan charge tambahan untuk sewa mobilnya.
Sore hari kami tiba kembali di new Selo. Istirahat bentaran, makan langsung balik ke Yogya dan mengantar mobil charterannya. Sesampainya di Yogya, Angga dan Deri langsung pulang menuju Jakarta menggunakan bus karena harus menghadiri pernikahan kawannya. Saya, Bram dan Alex lebih memilih untuk beristirahat di rumah Mayor dengan harapan malemnya bisa jalan-jalan di kota Yogya dulu. Tapi ternyata malah tertidur pulas semua.
Pagi hari niat mau pulang diurungkan karena masih pengen santai di Jogja n memilih untuk pulang malam harinya. Ternyata kami tertinggal kembali bus & kereta menuju Jakarta. Bram yang masih ada kereta menuju Bandung pulang duluan, sedangkan saya dan Alex diajak jalan-jalan muter-muter Kota Yogya oleh Tirta dan Mayor.
Thanks boi. Jalan-jalan kali ini meliputi jalanan Malioboro lanjut Alun-alun. Anda bisa coba melewati 2 pohon beringin, tapi yangg ada malah muter-muter gak jelas prustasi gak bisa dilewati dengan mata tertutup. Maka perjalanan dilanjutkan ke Tugu Yogya yang ternyata rame banget di situ dipake buat nongkrong-nongkrong.
Foto-foto sebentar lanjut pulang dan tidur biar tidak kesiangan lagi dikarenakan kereta berangkat jam 8 pagi. Beruntung kami datang tepat waktu 30 menit sebelum kereta berangkat. Saya dan Alex pun berpamitan dengan Mayor dan Ttirta. Thanks a lot buat waktunya mau nemenin saya dan tim. Kereta bergerak meninggalkan kota Yogyakarta dan saya pun bisa sampe di rumah kembali pada malam hari.
Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .
Selasa, 21 April 2015
Eat, Traveling, & Pinternet "Cara Lain Menikmat Sunrise Dieng"
| Panorama Puncak Gunung Prau Dieng |
Dataran tinggi dieng punya sejuta pesona karena berada diketinggian sekitar 2.300 mdpl dan apabila pagi hari kabut menyelimuti pemukiman jadi tidak salah apabila diberi julukan negeri diatas awan. berbekal keindahan foto-foto dieng yang banyak tersebar di media sosial akhirnya tekad untuk ke dieng seorang diri pun sudah bulat. selama 1 minggu sebelum hari keberangkatan saya rajin browsing serta aktif bertanya di grup-grup facebook para penikmat travelling dengan tujuan mencari akses transportasi dari tangerang tempat saya tinggal sampai ke dieng serta potensi-potensi wisata apa saja yang harus saya kunjungi. akibat dari seringnya bertanya saya mendapat seorang teman untuk menikmati keindahan dataran tinggi dieng dan dia adalah mas Hamid seorang warga asli dari dieng. akhirnya bertukarlah kontak seperti no. hp sekaligus whatsapp serta pin BBM. akses transportasi menuju dieng sudah didapat dan teman selama travelling pun sudah didapat berkat dari sebuah teknologi internet akhirnya waktu keberangkatan pun tiba dan saya berangkat seorang diri dari tangerang menuju dieng dengan tetap intens berkomunikasi lewat whatsapp atau pun BBM. beruntung kartu yang saya gunakan adalah Indosat jadi sinyal tidak pernah putus serta kuota yg lumayan besar jadinya saya tidak mati gaya selama perjalanan tangerang wonosobo selama 10 jam dengan menggunakan bis. saya masih tetap bisa browsing, streaming youtube atau pun chatting di whatsapp serta BBM.
setelah menempuh perjalanan semalaman saya pun sampai di kota wonosobo dan melanjutkan perjalanan menggunakan micro bis menuju dieng. selama perjalanan didalam micro bis saya terus berkomunikasi via BBM dengan seorang teman baru dari Facebook yang akan menemani selama di dieng. 1 jam berlalu dan akhirnya sampailah di pertigaan dieng dan sudah ditunggu oleh mas Hamid seorang teman yg saya kenal lewat facebook. berkenalan singkat, ngobrol-ngobrol sebentar sambil sarapan dan diajak kerumahnya untuk beristirahat sambil merencanakan itinerary selama di dieng.
Konon di dieng terdapat perkampungan tertinggi di pulau jawa yaitu desa sembungan yg mempunyai panorama sunrise terbaik yaitu puncak sikunir dengan background gunung sindoro dan sumbing. saya pun sempat melihat foto-foto keindahan sikunir memang dari internet tetapi saya diberi pilihan lain untuk menikmati sunrise di dieng yang tidak kalah bagusnya dengan sikunir yaitu puncak gunung prau tetapi harus trekking dengan medan menanjak selama kurang lebih 3 jam. sangat cocok bagi yang mempunyai jiwa adventure karena kita pun akan menginap didalam tenda. karena rasa penasaran akhirnya saya pun menyanggupi untuk mendaki gunung prau dan bersegeralah kami pun menyiapkan alat apa saja yang harus dibawa dan sesuai dengan prosedure pendakian gunung dari tenda, alat masak, jaket, sleeping bag, senter serta logistik untuk bekal kami selama 2 hari 1 malam kami packing dalam 2 tas carrier.
Setelah makan siang kami pun berangkat menuju gunung prau melalui pintu pendakian patak banteng yang mempunyai medan terus menanjak tetapi relatif lebih singkat. setelah mengisi daftar pendakian di base camp patak banteng dan membayar biaya retribusi yang sudah tercover asuransi kami pun mulai berjalan mendaki dengan pemandangan awal adalah perkebunan cabai dan kentang yang ditanami oleh warga dieng. selepas perkebunan warga jalur pendakian semakin menanjak tetapi lebih adem karena dipayungi oleh lebatnya hutan pinus dan pemandangan pemukiman dieng serta perkebunan warga apabila kita beristirahat dan menengok kebelakang. selepas hutan pinus dari sinilah jalur menjadi semakin extreme dengan tanjakan yang semakin terjal serta harus extra hati-hati karena kita akan berjalan melipir punggungan gunung prau dengan jurang menganga disebelah kanan jalan.
| Jalur Pendakian Hutan Pinus |
| Pemandangan dari Jalur Pendakian |
setelah berjalan saya pun melihat sabana sejauh mata memandang berarti kita sudah sampai dipuncak gunung prau dan bersegera mencari lokasi pohon-pohon tinggi sebagai tempat untuk mendirikan tenda menjaga dari angin besar karena puncak gunung prau itu jarang sekali pohon tinggi. karena kelelahan setelah menempuh perjalanan dari tangerang serta letihnya mendaki gunung prau setelah mendirikan tenda kami pun bersegera menyiapkan makan malam dan langsung beristirahat tidur setelah makan dengan tidak lupa memasang alarm pukul 05.00 agar tidak terlambat untuk menikmai sunrise dari puncak gunung prau.
| Puncak Gunung Prau |
alarm tepat berdering pukul 05.00 dan bersegeralah kami keluar dari tenda dengan tidak lupa membawa kamera untuk mengabadikan keindahan matahari terbit negeri diatas awan dieng karena sebuah foto banyak cerita dan sangat egois lah saya apabila hanya menikmati keindahan ini lewat mata kepala saya sendiri tanpa membagi-bagikannya lewat sebuah foto, dan memang panorama keindahan sunrise di puncak gunung prau ini tidak kalah bagusnya oleh sunrise dari sikunir walaupun sebenarnya saya sendiri belum pernah ke sikunir. matahari pagi semakin tinggi dan puncak gunung prau semakin panas jadi kami bersegera untuk packing dan turun dengan melalui jalanan yang sama seperti sewaktu kami naik. perjalanan turun relatif lebih singkat karena jarang beristirahat. hanya butuh waktu 1,5 jam saja kami sudah sampai kembali di pintu pendakian patak banteng.
sedikit foto panorama keindahan matahari terbit dari puncak gunung prau
| Gradasi warna langit menjelang matahari terbit |
| Negeri Diatas Awan |
| Damai |
| Sunrise dari Gunung Prau |
setelah bersih-bersih di base camp saya pun diantar oleh mas Hamid untuk membeli manisan carica buah khas dari dieng yang bentuknya seperti pepaya apabila masih dipohon dan sangat segar apabila sudah dibuat manisan serta membeli purwaceng minuman khas dieng yg katanya bisa meningkatkan daya tahan tubuh. beres membeli oleh-oleh saya pun diantar kembali oleh mas Hamid menuju kota Wonosobo dan diberi rekomendasi untuk mencicipi mie ongklok. mie khas kota wonosobo dengan bumbu rempah yang cukup enak dilidah. apabila berkunjung ke kota wonosobo memang sepertinya wajib untuk mencicipi kuliner ini karena hanya ada dikota wonosobo saja. saya belum pernah melihat ada penjual mie ongklok dikota lain. dan akhirnya setelah puas menikmati kuliner saya pun diantar ke terminal karena bis menuju kota tangerang hanya ada 1 kali yaitu pada jam 17.00 dan disinilah saya akhirnya harus berpisah dengan teman baru yang didapat dari facebook.
![]() |
| Mie Ongklok khas kota Wonosobo |
![]() |
| Buah Carica yang masih dipohon |
Terima kasih dieng atas kabut lembabmu, keindahan matahari terbitmu, kuliner lezatmu serta keramahtamahan wargamu. semoga tetap terjaga semua pesonamu
Label:
dieng,
indonesia,
lomba blog,
mie ongklok,
negeri diatas awan,
Prau,
sunrise
Langganan:
Komentar (Atom)



