Sabtu, 29 September 2007

Di Atap Jawa, Terpana dalam Diam


Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 Meter dpl, masih diminati para pendaki lokal maupun mancanegara. Gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan Puncak Mahamerunya ini, menawarkan rute pendakian yang panjang dan menantang. Pun panorama alam yang menawan. Pegiat alam bebas banyak yang berasumsi, rasanya belum sempurna menjadi pendaki gunung kalau belum berhasil menggapai atap Jawa ini.

Belum lama ini, kami dari kelompok pegiat alam bebas Montana, mendaki Gunung Semeru, Jawa Timur. Dari Cianjur kami menuju Desa Ranupane salah satu gerbang pendakian ke Gunung Semeru yang berada di ketinggian 2.200 M dpl. Di desa ini setiap pendaki harus melaporkan diri di pos pemeriksaannya. Desa ini berhawa sejuk dan memiliki dua danau mungil, Ranupane (1 Ha) dan Ranu Regulo (0,75 Ha). Selain itu, beberapa rumah penduduknya dijadikan penginapan dengan tarif dan fasilitas berbeda. Malam itu kami menempati pos pendaki.
Hari pertama kami menuju Ranu Kumbolo. Ranu (danau) indah ini dikelilingi pegunungan di ketinggian 2.400 M dpl dengan luas 14 Ha. Panoramanya indah. Matahari terbit di sela-sela pegunungan. Di kelilingi padang rumput luas dengan “aksen” pepohonan cemara. Kabut sesekali datang melayang di atas air dan langit biru terbentang. Kami pasang tenda dan menyalakan api unggun untuk mengusir dingin malam. Di Ranu Kumbolo saat cerah kita bisa menyaksikan kepulan asap Mahameru. Jarak Ranupane-Ranu Kumbolo sekitar 8,5 Km. Dapat ditempuh selama 6-7 jam. Jalurnya cukup landai. Bukit di sepanjang jalur didominasi ilalang, sisanya adalah cemara hutan dan pinus.

Memasuki hari kedua, ransel di punggung semakin berat karena kami harus membawa air yang banyak. Jalur pendakiannya sangat panjang, kering, dan lebih menanjak dibandingkan hari sebelumnya. Beberapa langkah dari tepi Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta menanti kami tanpa senyuman. Konon, jika kita bisa sampai di akhir tanjakan tanpa menoleh lagi ke belakang semua permohonan kita akan terkabul. Tapi siapa yang tahan tidak menoleh karena panorama di belakang Ranu Kumbolo begitu menawan. Kawan-kawanku yang mampu bertahan tidak menoleh ke belakang mengulum senyum. Tetapi langsung sirna ketika melihat di depan hamparan padang rumput yang panas, berdebu, dan gersang yang disebut Oro-oro Ombo (padang rumput yang luas). Kami melewatinya dengan diam dan tertunduk.
Berikutnya kami melintasi “pos” Gunung Kepolo dan Cemoro Kandang hingga sampai di Pos Kalimati pukul 3 sore. Tepat di batas antara padang rumput dan hutan cemara di pos dengan ketinggian 2.700 M dpl ini, tenda segera kami dirikan. Beberapa kawan mengambil air di Mata Air Sumber Mani, satu jam pulang-pergi. Sebelum gelap, kami duduk-duduk di rerumputan menyaksikan Mahameru yang perkasa.

Tengah malam kami “merangkak” ke Mahameru. Waktu tempuh Kalimati - Mahameru sekitar 5-6 jam. Kami cuma membawa pakaian hangat di badan, air, dan aneka biskuit, masker, kacamata, dan alat dokumentasi. Meski malam hari, ternyata debu di jalur tidak “tidur” dan malah semakin menjadi. Debu dari Mahameru yang seperti gerimis sesekali memercik ke mata dan menimbulkan perih. Udara yang semakin miskin oksigen membuat nafas tersengal. Tetapi “pos” Arcopodo di ketinggian 2.900 M dpl kami lalui dengan cepat.
Arcopodo adalah kawasan vegetasi terakhir di gunung ini. Selanjutnya, 776 m atau jarak vertikal adalah pasir! Tanjakan berpasir mudah longsor dengan kanan kiri jurang terjal. Kamipun “merayap”. “Awas Mister, The Rolling Stone!”, teriak Dodi kepada seorang turis dari Perancis. Dia ingin mengatakan bahwa batu-batu mudah jatuh ke bawah dan membahayakan yang di belakang. Kami tertawa terpingkal-pingkal hinga sejenak lupa semua dongeng mistis Gunung Semeru. Tepat ketika sunrise muncul di ufuk Timur, kami menjejakkan kaki di Mahameru untuk kemudian terpana dalam diam.

Foto! Foto! Foto! Hanya itu yang aku pikirkan. This is the moment! Ucapku dalam hati. Kartu memori kupenuhi dengan gambar semburan material panas dari kawah Jonggring Saloka, nama kawah di Mahameru.

Seorang turis kusapa dan kuberitahu siapa Soe Hok Gie yang nisannya kokoh “terpaku” disana. Aku sempatkan waktu memanjatkan doa di nisan Soe Hok Gie. Waktu aman di Mahameru hanya sampai jam 10.00 WIB. Setelah itu, nyawa taruhannya karena muntahan material panas dari kawah Jonggring Saloka akan cenderung mengarah ke arah puncak, tepat para pendaki berkumpul. Dalam hitungan detik tubuh manusia akan terbakar. Kami segera menuruni atap Pulau Jawa ini dan tiba di Ranupane sore hari.
04-21 Juli 2004, Montana Expedition
Tips Pendakian
Gunung Semeru dapat dicapai dari dua kota, Malang dan Lumajang. Disarankan lewat Malang lebih karena sarana transportasi dan kondisi jalan lebih baik. Dari Malang naik angkutan umum ke Tumpang. Dari Tumpang perjalanan diteruskan dengan naik jeep (angkutan “resmi” untuk pendaki) atau truk sayuran dengan ongkos Rp 30 ribu per orang. Jeep dapat dicarter dengan kisaran harga Rp 300 ribu s/d Rp 450 ribu. Usahakan tidak menggunakan jasa calo. Surat ijin masuk Gunung Semeru dapat diurus di Pos Gubugklakah. Tiket masuk Rp 2.500/orang, asuransi Rp. 2000/orang, dan biaya surat ijin Rp 2.000/orang. Surat ijin juga dapat diurus di Pos Ranupane.

Dari Ranupane perjalanan yang sebenarnya dimulai. Kalau beban mau berkurang, bisa menyewa porter dengan tarif Rp 50 ribu per hari. Bawa masker, kacamata, dan penutup kepala, karena sejak di Ranupane pana
s dan debu sangat menggangu. Dari Ranu Kumbolo bawa air yang cukup untuk perjalanan ke Kalimati. Usahakan air sisa perjalanan paling tidak cukup untuk digunakan selama 1 hari berikutnya. Kemungkinan terburuk harus diantisipasi, jangan sampai gagal menggapai Mahameru karena kehabisan air.

Mendaki atap Jawa ini butuh persiapan yang memadai baik fisik, mental, perlengkapan, dan logistik. Bawa pakaian hangat karena suhu udara di Gunung Semeru bisa mencapai 0 derajat celsius. Gunakan sepatu dengan gaiter, yaitu alat untuk melindungi kaki dari pasir dan kerikil. Jangan lupa kamera atau handycam untuk mengabadikan perjalanan dan pemandangannya. Tetap menjaga sopan santun selama pendakian. Mendakilah pada bulan Juni s/d September. Hindari musim hujan karena banyak badai dan tanah longsor.

Sumber : Balai Taman Nasional Bromo, Tengger & Semeru Serta Pengalaman Pribadi

GUNUNG GEDE (2958m) PANGRANGO (3019m)


Gunung Gede-Pangrango adalah satu-satunya gunung yang paling sering di daki di Indonesia, kurang lebih 50.000 pendaki per tahun, meskipun peraturan dibuat seketat mungkin, bisa jadi karena lokasinya yang berdekatan dengan Jakarta dan Bandung. Untuk mengembalikan habitatnya biasanya tiap bulan Agustus ditutup untuk pendaki juga antara bulan Desember hingga Maret. Untuk mengurangi kerusakan alam maka dibuatlah beberapa jalur pendakian, namun jalur yang populer adalah melalui pintu Cibodas.
Mulai 1 April 2002 untuk mengunjungi Taman Nasional Gn.Gede-Gn.Pangrango diberlakukan sistem booking, 3-30 hari sebelum pendakian harus booking dahulu. Jumlah pendaki dibatasi hanya 600 orang per malam, 300 melalui Cibodas, 100 melalui Selabintana, 200 melalui Gunung Putri. Pendaftaran pendaki hanya dilanyani di Wisma Cinta Alam kantor Balai Taman Nasional Gn. Gede-Pangrango pada hari kerja (senen-jumat) pada jam kantor. Pos Cibodas, Gn. Putri dan Salabintana sudah tidak melayani ijin pendakian. Hanya sebagai pos kontrol.
Pemerintah Hindia Belanda menetapkan kawasan hutan seluas 150 km2 di puncak Gunung Gede Pangrango (Kabupaten Cianjur) sebagai suaka alam pada tahun 1889. Pemerintah RI kemudian mengubah status wilayah Gede Pangrango menjadi Taman Nasional pada tahun 1980.
CUACA
Gede Pangrango adalah salah satu tempat di pulau jawa yang terbanyak curah hujannya, rata-rata pertahun mencapai 3.000 hingga 4.200 mm. Musim Hujan dimulai pada bulan Oktober hingga bulan mei dengan curah hujan lebih dari 200 mm setiap bulannya, dan lebih dari 400 mm perbulannya diantara bulan Desember hingga Maret dan taman biasanya ditutup. Taman nasional ini sangat penting untuk menyerap air hujan.
Saat terbaik untuk mengunjungi taman maupun pendakian adalah diantara musim kemarau sekitar juni hingga september, dimana pada saat itu curah hujan turun dibawah 100 mm. Suhu rata-rata berfariasi dari 18ºC di Cibodas hingga kurang dari 10ºC di puncak gunung gede dan pangrango, dengan kelembaban diantara 80% dan 90%. Pada malam hari suhu di puncak gunung bisa mencapai dibawah 5ºC, sehingga bagi setiap pendaki gunung harus membawa jaket tebal. Pendaki juga perlu berhati-hati karena pohon-pohonan mudah tumbang.
Kelembabannya sangat tinggi terutama di hutan pada malam hari, namun pada musim kemarau di puncak gunung berubah turun pada malam hari sekitar 30% hingga siang hari naik mencapai 90%.
PINTU MASUK TAMAN
Bagi setiap pengunjung wajib minta ijin di pintu masuk taman yang dapat diperoleh di kantor Cibodas. Pengunjung dapat memasuki taman lewat beberapa pintu diantaranya:
intu Cibodas (Cianjur) merupakan pintu masuk utama dan kantor pusat taman. Berjarak kira-kira 100 km dari Jakarta / 2,5 jam dengan mobil, 89 km dari Bandung / 2 jam naik mobil. Pintu Gunung Putri (Cianjur) dekat dengan Cibodas dan dapat dijangkau lewat Cipanas atau Pacet. Pintu Selabintana (Sukabumi) berjarak 60 km dari Bogor / 1,5 jam naik mobil, dan 90 km dari Bandung / 2 jam naik mobil. Jalur ini sudah ditutup, karena ada beberapa tempat yang terkena longsor sehingga kita harus merangkak melalui pinggiran jurang dengan tali. Untuk itu diperlukan ijin khusus dan harus dengan pengawalan ranger. Pintu Situgunung (Sukabumi) berjarak 15 km dari Selabintana ke arah Bogor. Jalur menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango memiliki jalur yang sangat jelas, kecuali pintu masuk Situgunung.
PERATURAN PENDAKIAN
1. Semua pengunjung wajib membayar tiket masuk taman dan asuransi. Para wisatawan dapat membelinya di ke empat pintu masuk. Ijin khusus diperlukan bagi pendaki gunung atau wisatawan yang dari Cibodas menuju Air terjun Cibeureum melanjutkan ke Air Panas. Wisatawan yang menuju Air terjun Cibeureum lewat Selabintana. Dari perkemahan Bobojong memasuki Taman Nasional lewat Gunung Putri.
2. Bagi para pendaki gunung harus minta ijin ke kantor pusat taman di Cibodas, 3-30 hari sebelum pendakian harus booking dahulu. Jumlah pendaki dibatasi hanya 600 orang per malam.
Jam buka kantor pengurusan ijin:
Senin - Kamis jam 07.30 - 14.30
Jumat jam 07.30 - 11.00
Pendaki harus menyerahkan photo copy KTP atau Surat ijin Orang Tua bagi yang belum memiliki KTP.
3. Penjaga akan memeriksa barang-barang bawaan dan perijinan sebelum memasuki taman.
4. Dilarang membawa binatang ke dalam taman.
5. Dilarang membawa senjata tajam termasuk pisau dan peralatan berburu.
6. Dilarang membawa perlengkapan radio dan bunyi-bunyian ke dalam taman, ijin khusus diperlukan bagi pengguna "walkie-talkie".
7. Dilarang membuat api unggun yang beresiko tinggi penyebab kebakaran hutan.
8. Dilarang mengganggu, memindahkan, atau merusak barang-barang milik taman. Termasuk mencorat-coret batu atau pohon.
9. Dilarang memetik bunga atau mencabut tanaman.
10. Mendakilah mengikuti jalur utama. Memotong jalur dapat merusak taman dan juga sangat berbahaya.
11. Jangan tinggalkan sampah, sangat sulit dan lama untuk membersihkan sampah dan botol-botol di gunung. Bawa kembali semua sampah ke luar taman.
12. Jangan mecemari atau mengotori sungai, pada saat mandi jangan gunakan sabun atau bahan pencemar lainnya.
13. Melapor kembali ke penjaga taman ketika meninggalkan taman dan menyerahkan surat ijin masuk.
14. Dilarang membawa minumam beralkohol ke dalam taman.
KEBUTUHAN MINIMAL
Bagi para pendaki kebutuhan utama yang harus dipenuhi adalah:
1. Perlengkapan minimal pendakian: pakaian hangat, sleeping bag bila ingin menginap di gunung, jas hujan atau pakaian tahan air, perlengkapan obat-obatan.
2. Bawalah bekal makanan dan minuman yang cukup (non-alkohol).
3. Dilarang mendaki sendirian, sedikitnya harus tiga orang dalam suatu kelompok dan sebisa mungkin dibimbing oleh orang yang sudah hafal betul dengan jalurnya.
PINTU CIBODAS & GUNUNG PUTRI
Jalur terbaik adalah melalui Cibodas, karena kita dapat menikmati keindahan satwa dan beberapa tempat menarik seperti Telaga Biru, air terjun Ciberem dan Air Panas. Terutama sekali kita dapat menemukan aliran air sepanjang jalan hingga pos Kandang Badak suatu pos persimpangan jalan antara Gunung Gede dan Pangrango.
Cibodas atau Gunung Putri dapat ditempuh menggunakan kendaraan umum jurusan Jakarta - Bandung. Turun di Cipanas atau pertigaan Cibodas, disambung dengan mobil angkutan kecil jurusan Cipanas - Cibodas, atau Cipanas - Gunung Putri. Selain dikenakan tiket masuk Taman dan Asuransi, pengunjung diwajibkan meninggalkan photocopy Tanda Pengenal dan menunjukkan Tanda pengenal asli.
Melalui Cibodas puncak Gunung Gede dapat ditempuh selama 5 jam dan puncak Gunung Pangrango dapat ditempuh selama 7 jam. Sedangkan melalui Gunung Putri puncak Gunung Gede dapat ditempuh selama 9 jam.
Dari jalur Cibodas, terdapat beberapa pos peristirahatan yang berupa bangunan beratap yang sangat bermanfaat untuk berteduh dan menghangatkan badan. Sebaiknya tidak mendirikan tenda di dalam pos karena mengganggu para pendaki lainnya yang ingin berteduh.
Sebelum pos Kandang Batu kita akan melewati suatu lereng curam yang sangat berbahaya, yang dialiri air panas, pendaki perlu ekstra hati-hati karena sempit dan licin namun banyak pendaki berhenti untuk menghangatkan badan. Sebaiknya tidak berhenti di sini sangat menggangu pendaki lainnya, selain itu sebaiknya menggunakan sepatu, panasnya air sangat terasa bila kita hanya menggunakan sandal.
Mandi di sungai di Pos Kandang Batu ini yang berair hangat sangat menyegarkan badan, menghilangkan capek dan kantuk. Membantu melancarkan aliran darah yang beku kedinginan. Jangan gunakan sabun, odol, shampoo, karena banyak pendaki mengambil air minum di sungai ini. Membuka tenda di Pos ini sangat mengganggu perjalanan pendaki lainnya.
Meninggalkan Pos Kandang Batu kita akan melewati sungai yang kadang airnya deras sehingga hati-hati dengan sendal yang dipakai. Celana panjang mungkin perlu digulung, namun bila air sungai sedang tenang (tidak ada hujan di puncak) kita bisa melompat di atas batu-batu. Mendekati Kandang Badak, kita akan mendengar suara deru air terjun yang cukup menarik dibawah jalur pendakian. Kita bisa memandang ke bawah menyaksikan air terjun tersebut, atau turun ke bawah untuk mandi bila air tidak terlalu dingin.
Bagi pendaki sebaiknya mengisi persediaan airnya di pos Kandang Badak, karena perjalanan berikutnya akan susah memperoleh air. Setelah kandang Badak perjalanan menuju puncak sangat menanjak dan melelahkan disamping itu udara sangat dingin sekali. Disini terdapat persimpangan jalan, untuk menuju puncak Gn.Gede ambil arah ke kiri, dan untuk menuju puncak Gn.Pangrango ambil arah kanan. Persiapan fisik, peralatan dan perbekalan harus diperhitungkan, sebaiknya beristirahat di pos ini dan memperhitungkan baik buruknya cuaca.
Puncak Gede sangat indah namun perlu hati-hati, kita dapat berdiri dilereng yang sangat curam, memandang ke kawah Gede yang mempesona.
Dibawah lereng-lereng puncak ditumbuhi bunga-bunga edelweis yang mengundang minat untuk memetiknya, hal ini dilarang dan sangat berbahaya. Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dari Gunung Gede-Pangrango.
Dari puncak Gede kita bisa kebawah menuju alun-alun SuryaKencana, dengan latar belakang gunung Gumuruh. Terdapat mata air yang jernih dan tempat yang sangat luas untuk mendirikan kemah. Dari sini kita belok ke kiri (timur) bila ingin melewati jalur Gunung Putri, dan untuk melewati jalur Selabintana kita berbelok ke kanan (barat).
Route Pendakian :
JAKARTA - GUNUNG GEDE - PANGRANGO

Rute
Jarak
Kendaraan
jalan
1
Jakarta - Cipanas ( arah Bandung )
100km
2,5 jam

2
Cipanas - Taman Cibodas ( Pintu Masuk )

30 mnt

3
Cibodas - Danau Biru


30 mnt
4
Danau Biru - Kandang Batu ( Air Panas )


2 jam
5
Kandang Batu - Kandang Badak


1,5 jam
6
Kandang Badak - Puncak Gede ( 2.958 Mdpl )


1 jam
7
Kandang Badak - Puncak Pangrango ( 3.019 Mdpl )


3 jam
8
Puncak Gede - Alun Alun Suryakencana


30 Mnt
Sumber : Balai TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango) & Pengalaman Pribadi